Jumat, 21 Oktober 2011

BAPA YANG PENUH KASIH (Lukas 15 : 11 - 24)

Selamat hari Minggu bagi kita semua…!
Firman Tuhan di Minggu ini adalah suatu “perumpamaan tentang anak yang hilang”. Dan secara khusus kita melihat Lukas pasal 15 ini berbicara tentang “Begitu besarnya kasih Allah kepada setiap orang-orang yang hilang, orang-orang berdosa, orang-orang yang jahat sekalipun yang mengenali dosanya dan kembali kepada Bapa; Dan begitu bersukacitanya hati Allah kita orang-orang berdosa itu bertobat” (bnd. Lukas 15 : 7, Lukas 15 : 10). Tujuan seluruh perumpamaan dalam Lukas pasal 15 ini, sekaligus mengecam sikap orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang selalu menganggap dirinya orang benar, orang yang tidak berdosa dan yang tidak mau bergaul diluar dari kelompok mereka sendiri, termasuk orang-orang berdosa. Dan perumpamaan ini sekaligus menjawab sungut-sungut mereka karena Yesus bergaul  dengan orang-orang berdosa itu bahkan makan bersama dengan mereka (bnd. Lukas 15 : 2). Demikianlah dalam perumpamaan ini, mengisahkan seorang anak bungsu yang meminta haknya atau bagian miliknya dari Bapanya. Memang dalam hukum Yahudi, ada aturan tentang hak warisan; Dimana anak yang tertua memperoleh dua pertiga dari harta tersebut dan sepertiga bagi saudaranya yang lain (bnd. Ulangan 21 : 16). Tetapi dalam permintaan anak bungsu ini terkandung suatu paksaan dan tanpa perasaan terhadap bapanya ketika ia meminta haknya; Ia berkata: “Berikanlah kepadaku bagian harta kita yang menjadi hakku”, ayahnya itu tidak membantah, ayahnya membagikan harta kekayaan itu kepada anak-anaknya. Dan tanpa menunda lagi anak bungsu itu dengan segera menjual yang menjadi miliknya itu dan meninggalkan ayahnya. Tetapi apa yang terjadi? Anak bungsu itu kehabisan uangnya karena hidup yang berfoya-foya (ay. 13) dan hidupnya terhempas dan sangat menderita bahkan ia harus bekerja sebagai penjaga babi. Cerita ini tidak berhenti disitu saja; tetapi firman itu mengarahkan kita kepada hal yang besar yang terdapat dalam diri manusia itu yaitu “ketika ia menyadari keadaannya”, menyadari bahwa dia sudah berdosa terhadap Allah dan terhadap bapanya; bahkan ia tidak layak lagi disebut sebagai anak karena perbuatannya yang tidak benar dihadapan bapanya (ay. 18 – 19); maka ia memutuskan untuk kembali kepada bapanya bahkan ia siap sekalipun ia dijadikan sebagai hamba, orang upahan di rumah bapanya. Tetapi, disinilah kita melihat bagaimana besarnya kasih seorang ayah terhadap anaknya sama seperti kasih Allah kepada kita. Ketika melihat anaknya yang bungsu itu kembali, sang ayah tidak memberi kesempatan anaknya untuk menyampaikan permohonannya menjadi hamba; tetapi justru ayahnya memakaikan jubah yang menyimbolkan kehormatan; cincin sebagai simbol kewenangan/hak mutlak; sepatu sebagai symbol bahwa ia benar adalah anak bukan hamba. Dan pesta diselenggarakan sebagai tanda sukacita atau kegembiaraan, sebagaimana yang disebut dalam ayat 24 ini “sebab anakku ini telah mati dan hidup kembali, ia telah hilang dan di dapat kembali”. Perumpamaan ini mengajarkan kepada kita tentang keajaiban kasih Allah yang begitu besar; Ia tidak ingin kita binasa, tetapi supaya kita beroleh hidup yang kekal; ia tidak ingin orang berdosa itu mati dalam dosanya; tetapi Allah menginginkan pertobatan supaya ia hidup (bnd. Yoh 33 : 11). Dan Yesus datang bukan hanya kepada orang benar, tetapi juga orang berdosa. Tetapi, perlu kita ingat kasih Allah yang dianugerahkan kepada kita haruslah kita respon dengan penuh sukacita; artinya, jika Allah sudah mengampuni kita, janganlah kita ulangi lagi untuk berbuat dosa; Allah sudah mengasihi kita dan sebagai wujudnya kita pun hendaknya mengasihi Allah dengna segenap hari, segenap jiwa dan dengan segenap akal budi (bnd. Mat. 22 : 36) kita dengan tekun dan setia mendengarkan dan melakukan firmanNya serta mengasihi sesama kita sebagai wujud nyata kasih kita kepada Allah. Amin

Bvr. Sulastri br. Sitompul

0 komentar:

Posting Komentar

Alamat HKBP Pasar Rebo

Recent Posting :

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons